![]() |
Akhir-akhir ini, Sepak bola Indonesia
sedang digemuruhkan oleh hebatnya Timnas Indonesia di ajang Piala AFF. Berhasil
lolos ke semifinal, ketika persepakbolaan Indonesia belum pulih semenjak PSSI
ditangguhkan oleh FIFA dan berdampak kepada QNB League (ISL) kala itu
dibubarkan. Hingga vakumnya persepakbolaan Indonesia hingga berbulan-bulan,
juga berdampak kepada karir pemain yang seperti di ujung tanduk.
Tak sepi sekali, turnamen-turnamen
diadakan untuk mendinginkan suasana vakumnya Sepak bola Indonesia. Cukup
berdampak positif, karena pemain-pemain kembali disibukkan dengan
pertandingan-pertandingan dan berdampak juga pada keuangan mereka tentunya. Di
sisi lain, turnamen tidak semeriah kompetisi resmi, juga tidak berdampak banyak
kepada karir Timnas dan bibit-bibit muda tentunya. Karena, turnamen bersifat
sementara dan hanya meriah sesekali saja.
Namun di awal-awal bulan April, PT.
Liga Indonesia atau berubah nama menjadi PT. GTS kala itu, berinisiatif untuk mengadakan
Turnamen besar, bertajuk Indonesia Soccer Championship. Berkonsep turnamen
penuh musim, dan juga menyertakan kompetisi U-21 dan amatir yang penting
sebagai pondasi sepak bola negeri. Tapi, setelah FIFA menarik tangguhan PSSI,
di situlah kesempatan untuk comeback muncul. Namun, seiring berjalannya ISC,
dan mustahil untuk dibubarkan karena sudah terlanjur menjadi bubur. Ya sudah,
manfaatkan untuk sepak bola Indonesia.
Konsep kompetisi Indonesia (pada saat
keadaan normal) yang berpusat kepada Kompetisi ISL (18 tim), kemudian di
bawahnya ada Divisi Utama (50 lebih tim), yang terbagi menjadi beberapa grup,
kemudian di bawahnya ada Divisi Satu, Dua dan Tiga, walaupun pada akhirnya
dibubarkan dan diganti Liga Nusantara yang berkonsep menampung seluruh klub di
Indonesia namun dibagi per Regional. Kompetisi muda hanya sebatas ISL U-21
saja.
Menurut saya ini harus dibereskan!
Kenapa?
Karena dengan konsep kompetisi
seperti ini terus-menerus, tidak akan merubah kualitas persepakbolaan
Indonesia. Indonesia butuh kompetisi yang bersih, adil, sistematis, eksklusif,
dan terkontrol.
Saya coba petakan Kompetisi Indonesia
(Impian saya)
- Indonesia Super League (18 tim menjadi 20 tim);
- Divisi Utama (50 lebih tim menjadi hanya 24 tim dengan satu grup, mencontoh Kasta kedua di Inggris, terlebih juga menghemat anggaran dan juga menyimpelkan promosi-degradasi);
- Divisi Satu (Baru yang ini dibagi beberapa grup); dan terakhir
- Liga Nusantara (menampung klub amatir dari seluruh Indonesia)
Jangan lupakan kompetisi di bawah umur,
atau usia muda.
- ISL U-21
- ISL U-17 (Menggantikan Piala Suratin)
- ISL U-15
Harus berjalan dengan efeksifitas
tinggi, dan berani dengan berkonsep kompetisi penuh, sehingga berdampak positif
bagi pembinaan sepak bola Indonesia.
Turnamen yang dulu hilang juga harus
diselenggarakan kembali. Seperti:- Piala Indonesia
- Indonesia Island Cup
Sementara dengan pengkondisian
Pengadil pertandingan, Wasit, harus dibina betul-betul, karena wasit dinilai
bekerja tidak selalu baik di pertandingan Indonesia akhir-akhir ini. Saya juga
antusias saat mendengar PT. GTS berani memakai wasit luar negeri, karena itu
dapat menetralkan suasana. Lalu berkaitan dengan hal eksternal, juga harus
dikontrol dengan serius. Gaji pemain, supporter, dan Komisi Hukum juga harus
ada untuk mengontrol apabila ada hal yang janggal terjadi.
Demikian saya mempetakan seluruh
impian saya terhadap konsep kompetisi sepak bola Indonesia. Semoga didengar
insan-insan sepak bola Indonesia dan dapat mengaktualisasikannya. Aamiin.

0 komentar:
Posting Komentar